Kedelai Mahal Picu Kenaikan Harga Pangan Lain
Harga kedelai belakangan ini mengalami kenaikan yang tajam. Dikisaran Rp11 ribu hingga Rp14 ribu per kilo gram. Padahal, di tahun 2020 harga kedelai pernah mencapai Rp7.200 per Kg.
Pada saat itu, para pelaku usaha olahan kedelai mengeluh dengan harga kedelai sebesar itu.
Jika dibandingkan dengan harga kedelai pada hari ini, beban yang ditanggung oleh pengusaha tahu tempe dinilai semakin berat.
Sementara, merubah ukuran tahu dan tempe sudah pasti pernah dilakukan sebelumnya. Karena kejadian ini mengulang peristiwa yang sama setahun lalu, Februari 2021, saat harga kedelai naik dikisaran Rp9.000 hingga Rp10.000 per Kg.
“Jadi kalau direspon dengan mogok atau menutup usaha memang begitulah keadaan pengusaha yang merugi karena kedelai mahal. Namun, masalah tidak berhenti disitu. Dampak yang ditimbulkan dari mahalnya kedelai itu bukan hanya bisa memicu terjadinya kenaikan produk turunan dari kedelai saja tapi bahan kebutuhan pangan lain juga bisa naik harganya,” jelas Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, Selasa (22/2/2022).
Menurut Gunawan, kedelai yang mahal yang memicu pelaku usaha menutup usahanya, berpeluang menciptakan penambahan angka pengangguran hingga kemiskinan.
“Kalau di Medan itu kan ada pengusaha tahu tempe sekitar 70-an usaha yang tergabung dalam Gakoptani, karena levelnya UMKM, jadi kalikan saja dengan jumlah karyawan sekitar 5 hingga 15 orang. Maka ada sekitar 350 sampai seribu orang yang berpotensi kehilangan pekerjaan karena kedelai mahal,” jelasnya.
Naiknya harga kedelai ini, menurutnya tidak berhenti hanya di level pengusaha olahan kedelai saja. Pengusaha lainnya seperti penjual gorengan, pedagang kuliner termasuk ibu rumah tangga juga akan terbebani oleh mahalnya harga kedelai.
Tahu dan tempe merupakan sumber protein utama bagi masyarakat di semua kalangan. Kenaikan harga kedelai bisa memicu kenaikan harga sumber protein pengganti lainnya, seperti telur ayam, ikan segar dan daging ayam.
“Jadi kalau kedelai harganya naik dan langka, harga kebutuhan pangan lainnya bisa ikut naik juga. Pengendalian inflasi kian rumit tentunya, dan daya beli masyarakat turun,” katanya.
Gunawan memaparkan, kebutuhan kedelai paling besar datang dengan diimpor. Pemicu kenaikan harganya didominasi oleh permintaan yang tinggi di China, ditambah kenaikan harga energi seperti minyak dunia yang memicu kenaikan harga kedelai termasuk juga harga minyak sawit.
“Kalau ditarik data, tren harga kedelai dunia itu naik sejak Oktober 2021,” tambahnya.
Saat ini, harga kedelai dari $1.400 menjadi sekitar $1.600-an per bushel, atau naik sekitar 14%. Dalam kurun waktu setahun terakhir, harga kedelai telah naik sekitar 16%.
Jalan keluar jangka pendeknya memang kedelai ini harus disubsidi. Jangka menengah dengan melakukan pembelian secara berjangka komoditas kedelai di pasar internasional.
Meskipun kebijakan tersebut tetap bisa menuai untung rugi, terlebih jika membeli di harga sekarang, namun harga kedelai mengalami penurunan setelahnya, atau sampai saat kontrak pembelian jatuh tempo.
“Jalan keluar jangka panjangnya memang harus swasembada kedelai, meskipun bukan perkara yang mudah. Kedelai dari negara lain memiliki keunggulan comparative, memang diuntungkan kedelai impor dari sisi produktivitas di negara lain karena faktor iklim dan penerapan teknologi yang lebih unggul,” tandasnya.

Comments
Post a Comment